Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam
pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam peroses belajar. Para guru
dituntut agar mampu memahami, menggunakan alat-alat yang tersedia atau
media pembelajaran dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang
diharapkan.
Kemajuan di bidang teknologi
pendidikan, maupun teknologi pembelajaran, menuntut digunakannya berbagai media
pembelajaran serta peralatan-peralatan yang semakin canggih. Boleh dikatakan
bahwa dunia pendidikan dewasa ini hidup dalam dunia media, di mana kegiatan
pembelajaran
telah
bergerak menuju dikuranginya sistem penyampaian bahan pembelajaran secara
konvensional yang lebih mengedepankan metode ceramah, dan diganti dengan sistem
penyampaian bahan pembelajaran modern yang lebih mengedepankan peran siswa dan
pemanfaatan multimedia.
Lebih-lebih pada kegiatan pembelajaran
yang menekankan pada kompetensi-kompetensi yang terkait dengan keterampilan
proses, peran media pembelajaran menjadi semakin penting. Pembelajaran
yang dirancang secara baik dan kreatif dengan memanfaatkan teknologi
multimedia, dalam batas-batas tertentu akan dapat memperbesar kemungkinan siswa
untuk belajar lebih banyak, mencamkan apa yang dipelajarinya lebih baik, dan
meningkatkan kualitas pembelajaran.
Setiap jenis media memiliki
karakteristik masing-masing dan menampilkan fungsi tertentu dalam menunjang
keberhasilan proses belajar peserta didik. Agar peran sumber dan media belajar
tersebut menunjukkan pada suatu jenis media tertentu, maka pada media-media
belajar itu perlu diklasifikasikan menurut suatu metode tertentu sesuai dengan
sifat dan fungsinya terhadap pembelajaran. Pengelompokkan itu penting untuk
memudahkan para pendidik dalam memahami sifat media dan dalam menentukan media
yang cocok untuk pembelajaran atau topik pembelajaran tertentu.
Dari contoh pengelompokan yang
dilakukan oleh Scharmm, kita dapat melihat media menurut karakteristik
ekonomisnya, lingkup sasarannya yang dapat diliput, dan kemudahan kontrol
pemakai. Jadi antara klasifikasi media, karakteristik media dan pemilihan media
merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan dalam penentuan strategi
pembelajaran.
Karakteristik media pembelajaran dapat
dilihat menurut kemampuan membangkitkan rangsangan indera penglihatan,
pendengaran, perabaan, maupun penciuman atau kesesuaiannya dengan tingkatan
hierarki belajar. Untuk tujuan praktis karakteristik beberapa jenis media yang
lazim digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.
Dalam pengertian
teknologi pendidikan, media atau bahan sebagai sumber belajar merupakan
komponen dari sistem instrusional di samping pesan, orang, teknik dan
peralatan. Dari usaha penantaan yang timbul yaitu pengelompokan atau
klasifikasi menurut kesamaan atau karakteristiknya. Karakteristik media ini
sebagaimana dikemukakan oleh Kemp (1975) merupakan dasar pemilihan media sesuai
dengan situasi belajar tertentu.
Setiap media pembelajaran memiliki
karakteristik tertentu, yang dikaitkan atau dilihat dari berbagai segi.
Misalnya, Schramm melihat karakteristik media dari segi ekonomisnya, lingkup
sasaran yang dapat diliput, dan kemudahan kontrolnya oleh. Karakteristik media
juga dapat dilihat menurut kemampuannya membangkitkan rangsangan seluruh alat
indera. Dalam hal ini, pengetahuan mengenai karakteristik media pembelajaran
sangat penting artinya untuk pengelompokan dan pemilihan media (Arief S.
Sadiman, dkk, 2006:28).
Kemp 1975 dalam (Sadiman, dkk. 1990)
mengemukakan bahwa karakteristik media merupakan dasar pemilihan media yang
disesuaikan dengan situasi belajar tertentu. Gerlach dan Ely mengemukakan tiga
karakteristik media berdasarkan petunjuk penggunaan media pembelajaran untuk
mengantisipasi kondisi pembelajaran di mana guru tidak mampu atau kurang efektif
dapat melakukannya. Ketiga karakteristik atau ciri media pembelajaran tersebut
(Arsyad, 2002) adalah:
a. Ciri
Fiksatif yang menggambarkan kemampuan media untuk merekam, menyimpan,
melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek.
b. Ciri
Manipulatif, yaitu kamampuan media untuk mentransformasi suatu obyek, kejadian
atau proses dalam mengatasi masalah ruang dan waktu. Sebagai contoh, misalnya
proses larva menjadi kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu dapat disajikan
dengan waktu yang lebih singkat (atau dipercepat dengan teknik time-lapse
recording). Atau sebaliknya, suatu kejadian/peristiwa dapat diperlambat
penayangannya agar diperoleh urut-urutan yang jelas dari kejadian/peristiwa
tersebut.
c. Ciri
Distributif yang menggambarkan kemampuan media mentransportasikan obyek atau
kejadian melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian itu disajikan kepada
sejumlah besar siswa, di berbagai tempat, dengan stimulus pengalaman yang
relatif sama mengenai kejadian tersebut.
Arsyad (2002) membagi karakteristik
media pembelajaran menjadi empat kelompok berdasarkan teknologi, yaitu: media
hasil teknologi cetak, media hasil teknologi audio-visual, media hasil
teknologi berdasarkan komputer, dan media hasil gabungan teknologi cetak dan
komputer. Masing-masing kelompok media tersebut memiliki karakteristik yang
khas dan berbeda satu dengan yang lainnya. Karakteristik dari masing-masing
kelompok media tersebut akan dibahas dalam penjelasan selanjutnya. Untuk
tujuan-tujuan praktis, dibawah ini akan dibahas karakteristik beberapa jenis
media yang lazim dipakai dalam kegiatan belajar mengajar khususnya di
Indonesia.
Karakteristik
Media Visual
Secara garis besar, unsur-unsur yang
terdapat pada media visual terdiri dari garis, bentuk, warna, dan tekstur
(Arsyad, 1997). Untuk memberi kesan penekanan, juga untuk membangun kemenarikan
dan keterpaduan, bahkan dapat mempertinggi realisme dan menciptakan respon
emosional diperlukan warna. Sementara, tekstur digunakan untuk menimbulkan
kesan kasar dan halus, juga untuk menambah penekanan sebagaimana halnya warna.
Dalam mengembangkan sebuah media
pembelajaran, perlu diperhatikan beberapa prinsip agar media tersebut
memberikan pengaruh efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Meyer (2009)
menyebutkan sepuluh prinsip,yang secara rinci tercantum dalam bukunya
"Multimedia Learning". Selanjutnya, Arsyad (1997) menyatakan simbol
pesan visual hendaknya memiliki prinsip kesederhanaan, keterpaduan dan
penekanan.
v Kesederhanaan
secara umum mengacu kepada sejumlah elemen yang terkandung dalam suatu visual.
Jumlah elemen yang lebih sedikit memudahkan peserta didik menangkap dan
memahami pesan yang disajikan visual itu. Pesan atau informasi yang panjang dan
rumit harus dibagi ke dalam beberapa bahan visual yang mudah dipahami. Kata-kata
harus memakai huruf yang sederhana dengan gaya huruf yang mudah terbaca dan
tidak terlalu beragam dalam satu tampilan atau serangkaian tampilan visual.
v Penekanan.
Meskipun penyajian visual dirancang sesederhana mungkin, seringkali konsep yang
ingin disajikan memerlukan penekanan terhadap salah satu unsur yang akan
menjadi pusat perhatian peserta didik. Dengan menggunakan ukuran, hubungan-
hubungan, perspektif, warna atau ruang penerangan dapat diberikan unsur
penting.
v Keterpaduan. la
mengacu kepada hubungan yang terdapat di antara elemen-elemen visual yang
ketika diamati akan berfungsi bersama-sama. Elemen-elemen itu harus saling
terkait dan menyatu sebagai suatu keseluruhan yang dapat dikenal dan dapat
membantu pemahaman pesan dan informasi yang dikandungnya. Misalnya, jika kita
menginformasikan tentang guru yang sedang mengajar di kelas, maka elemen-elemen
yang terkandung dalam informasi itu harus ada, seperti guru itu sendiri, siswa,
bangku, papan tulis, media, dll.
MediaVisual
Non Proyeksi
Media visual nonproyeksi merupakan
jenis media yang sering digunakan dalam pembelajaran karena penggunaannya
sederhana, tidak memerlukan banyak kelengkapan dan relatif tidak mahal. Media
visual nonproyeksi dapat menterjemahkan ide abstrak menjadi lebih realistik.
Beberapa jenis media visual nonproyeksi yang sering digunakan dalam
pembelajaran antara lain: benda realita (real object) atau benda nyata, model
dan prototipe dan media grafis.
Beberapa jenis
media visual nonproyeksi yang sering digunakandalam
pembelajaran antara lain: benda realita (real object) atau benda nyata, model
dan prototipe dan media grafis.
a. Benda Realita (Banda Nyata)
Benda nyata adalah
benda yang dapat dilihat, didengar ataudialami oleh peserta didik
sehingga memberikan pengalaman langsung
kepada mereka. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas ketika
proses pembelajaran berlangsung, tetapi siswa dapat melihat
langsung ke lokasi obyek. Sebagai contoh, untuk mempelajari keanekaragaman hayati, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem,.dan organ tanaman, siswa bisa
mengamatinya langsung di lokasi atau habitatnya, misalnya melalui
kunjungan atau studi lapangan.
b. Model
dan Prototipe
Model dan prototipe adalah benda tiruan
dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model atau prototipe
dalam pembelajaran untuk
mengatasi keterbatasan ketersediaan benda realia, baik keterbatasan karena alasan biaya maupun karena sulit
dijangkau. Misalnya, untuk mempelajari letak geografis wilayah di planet bumi
diperlukan model berupa globe bumi.
c. Media
Cetak
Media cetak adalah media pembelajaran yang disajikan dalam
bentuk tercetak (prited media). Media jenis ini termasuk kelompok media yang paling
tua dan banyak digunakan dalam proses pembelajaran karena praktis penggunaannya
dan tersedia di banyak tempat. Beberapa
contoh media cetak adalah buku teks,
modul, majalah dan sejenisnya.
d. Media
Grafis
Media grafis menyalurkan pesan dan informasi melalui simbol-simbol
visual. Fungsi dari media gratis adalah menarik perhatian, memperjelas
sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu
fakta atau konsep yang mudah terlupakan apanila hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Beberapa
contoh media grafis antara lain:
gambar, kartun, karikatur, grafik, diagram, dan lain-lain.
MediaVisual
Proyeksi
Berkembangnya produk-produk teknologi
informasi dan komunikasi, dan komputer dewasa ini, memungkinkan media visual
pembelajaran dapat ditampilkan dengan alat proyeksi (projektor). Proyektor
berfungsi untuk menampilkan objek-objek atau ilustrasi pada layar proyeksi atau
layar monitor dengan ukuran yang lebih besar dari ukuran sebenarnya, sehingga
mudah dilihat dan diamati oleh seluruh peserta didik dalam satu kegiatan pembelajaran.
Media visual proyeksi dapat dibuat dari kreasi hasil pemotretan menggunakan
kamera dan hasil kreasi tanpa kamera melainkan menggunakan program aplikasi
yang tersedia dalam berbagai macam seperti Powerpoint, ChennDraw, AutoCad,
Paint dan lain-lain.
Media
Audio
Media audio adalah media yang isi
pesannya hanya diterima melalui indera pendengaran saja. Media audio berfungsi
merekam dan memancarkan suara manusia, binatang, dll dan untuk tujuan
interview. Media audio digunakan dalam pengembangan keterampilan-keterampilan
mendengarkan untuk pesan-pesan lisan atau informasi yang akan disampaikan
dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif berupa kata-kata, musik, dan efek
suara (sound effect). Media audio memiliki jenis dan bentuk yang bervariasi, di
antaranya adalah radio, piringan hitam, pita kaset suara, compact disc (CD).
Pesan-pesan dapat
juga dipengaruhi oleh keterampilan-keterampilan mendengarkan
dari si penerima pesan. Penerima pesan harus mampu mengarahkan
dan mendukung konsentrasinya pada suatu rangkaian informasi
yang didengarnya. Dan seringkali kita berpikir lebih cepat dari pada
membaca dan menulis dan menggunakan. Seorang pendengar yang baik
perlu mengembangkan keterampilan untuk mengorganisasikan dan menyimpan
informasi, sehingga pesan atau informasi disimpan di dalam ingakatan
jangka panjang (long term memory) bertahan lama. Hal itu akan
terjadi jika: pengirim pesan (komunikator) menyampaikan pesan dengan jelas dan
logis, maka penerima pesan (komunikan) akan memahami pesan yang
disampaikan oleh komunikator dengan baik.
Media
Audio-Visual
Media ini dapat menampilkan unsur
gambar (visual) dan suara (audio) secara bersamaan pada saat mengkomunikasikan
pesan atau informasi. Media audio-visual terbagi dua macam, yakni:
v Audio visual
murni yaitu balk unsur suara maupun unsur gambar berasal dari satu satu
sumber seperti video kaset.
v Audio visual
tidak murni yaitu unsur suara dan unsur gambarnya berasal-dari cumber yang
berbeda. Misalnya film bingkai suara yang unsur gambarnya berasal dari slides
proyektor dan unsur suaranya berasal dari tape recorder.
Media video dapat diklasifikasikan
sebagai media audio-visual. Walau bentuk fisiknya berbeda, media ini memiliki
kesamaan dengan film, yakni sama-sama mampu menayangkan gambar bergerak. Media video telah banyak digunakan untuk berbagai
keperluan mulai dari hiburan,
sampai bidang pendidikan dan pembelajaran. Media ini dapat mengungkapkan objek dan peristiwa seperti keadaan yang sesungguhnya. Perencanaan yang baik dalann
menggunakan media video akan
membuat proses komunikasi (pembelajaran) menjadi lebih efektif.
Karakteristik Multimedia
Istilah multimedia nnuncul pertama kali
di awal 1990 melalui media masa. Istilah ini dipakai untuk nnenyatukan
teknologi digital dan analog dibidang entertainment, publishing,
communications, marketing, advertising, dan juga commercial. Multimedia
merupakan penggabungan dua kata "multi" dan "media". Multi
berarti "banyak" sedangkan media atau bentuk jamaknya berarti medium.
Vaughan (2004)
menjelaskan bahwa multimedia adalah sennbarangkombinasi
yang terdiri atas teks, seni grafik, bunyi,animasi dan video yangditerima
oleh pengguna melalui hardware komputer. Sejalan dengan hal di
atas, Heinich et al (2005) menyatakan bahwa multimedia merupakanpenggabungan
atau pengintegrasian dua atau lebih format media yangberpadu
seperti teks,grafik,animasi, dan video untuk membentuk aturaninformasi
ke dalam sistem konnputer (Supriatna, 2007).
Setiap jenis media pembelajaran
memiliki karakteristiknya yang khas, yang dikaitkan atau dilihat dari berbagai
segi (misalnya dari segi ekonomisnya, lingkup sasaran yang dapat diliput, dan
kemudahan kontrolnya oleh pemakai, menurut kemampuannya membangkitkan
rangsangan seluruh alat indera, dan petunjuk penggunaannya untuk mengatasi kondisi
pembelajaran). Secara umum media pembelajaran memiliki tiga karakteristik atau
ciri yaitu:
· Ciri
Fiksatif, yang menggambarkan kemampuan media untuk merekam, menyimpan,
melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek
· Ciri
Manipulatif, yaitu kamampuan media untuk mentransformasi suatu obyek, kejadian
atau proses dalam mengatasi masalah ruang dan waktu dan,
· Ciri
Distributif, yang menggambarkan kemampuan media mentransportasikan obyek atau
kejadian melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian itu disajikan kepada
sejumlah besar siswa, di berbagai tempat, dengan stimulus pengalaman yang
relatif sama mengenai kejadian tersebut.
Arsyad (2002) membagi karakteristik
media pembelajaran menjadi empat kelompok berdasarkan teknologi, yaitu: media
hasil teknologi cetak, media hasil teknologi audio-visual, media hasil
teknologi berdasarkan komputer, dan media hasil gabungan teknologi cetak dan
komputer. Masing-masing kelompok media tersebut memiliki karakteristik yang
khas dan berbeda satu dengan yang lainnya.
1. Media visual, yaitu jenis media yang digunakan
hanya mengandalkanindera penglihatan
peserta didik semata-mata, sehingga pengalamanbelajar yang diterima peserta didik sangat tergantung pada kemampuan penglihatannya seperti buku, jurnal, poster,
globe bumi, peta, foto, alam sekitar dan sebagainya.
2. Media audio adalah jenis media yang digunakan
dalam proses pembelajaran dengan
hanya melibatkan indera pendengaran peserta didik. Pengalaman belajar yang akan didapatkan adalah dengan
mengandalkan indera kemampuan pendengaran.
3. Media audio-visual, adalah jenis media yang
digunakan dalam kegiatan pembelajaran
dengan melibatkan pendengaran dan penglihatan sekaligus dalam satu proses atau kegiatan. Pesan dan
informasi yang dapat disalurkan
melalui media ini dapat berupa pesan verbal dan nonverbal yang
mengandalkan bail< penlihatan maupun pendengaran.
4. Multimedia, yaitu media yang melibatkan jenis
media untuk merangsang semua
indera dalam satu kegiatan pembelajaran. Multimedia lebih ditekankan pada penggunaan berbagai media berbasis
TIK dan komputer.
Dengan mempelajari karakteristik media
pembelajaran, maka kita akan mengetahui berbagai karakteristik media sebagai
bahan acuan dalam menyampaikan pembelajaran kepada siswa dengan menggunakan
media supaya kegiatan belajar mengajar menjadi lebih efektif.
Dengan mengetahui karakteristik media pembelajaran,
guru sebagai sumber informasi, dapat dengan mudah menggunakan media sebagai
perantara penyampaian pesan kepada peserta didik, sesuai dengan kondisi tempat,
ruang, waktu serta keefektifan dan keefesiensiannya. Sehingga informasi materi
dapat diterima dan tersalurkan oleh peserta didik dengan tepat sasaran dan
baik.
Landasan Media
Pembelajaran
A.
Landasan Psikologis Media Pembelajaran
Landasan psikologis penggunaan media pembelajaran ialah alasan atau rasional
mengapa media pembelajaran dipergunakan ditinjau dari kondisi pebelajar dan
bagaimana proses belajar itu terjadi.Walaupun telah diketahui adanya pandangan
yang berbeda tentang belajar dan bagaimana belajar itu terjadi, namun dapat
dikatakan bahwa belajar itu adalah suatu proses yang mengakibatkan adanya
perubahan perilaku oleh adanya pengalaman. Perubahan perilaku itu dapat berupa
bertambahnya pengetahuan, diperolehnya keterampilan atau kecekatan dan
berubahnya sikap seseorang yang telah belajar.
Pengetahuan dan pengalaman itu diperoleh melalui pintu gerbang alat indera
pebelajar karena itu diperlukan rangsangan (menurut teori Behaviorisme) atau
informasi (menurut teori Kognitif), sehingga respons terhadap rangsangan atau
informasi yang telah diproses itulah hasil belajar yang diperoleh.
B. Landasan Historis Media Pembelajaran
Yang dimaksud dengan landasan historis media pembelajaran ialah rasional
penggunaan media pembelajaran yang ditinjau dari sejarah konsep istilah media
digunakan dalam pembelajaran. Untuk mengetahui latar belakang sejarah
penggunaan konsep media pembelajaran marilah kita ikuti penjelasan berikut ini.
Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya
kon-sepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923.Yang
dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi pengajaran visual ini adalah
setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual
yang nyata kepada pebelajar.
Kemudian kosep pengajaran visual ini berkembang menjadi “audio visual
instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar
tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio visual materials”,
“audio visual methods”, dan “audio visual devices”. Inti dari kosepsi ini
adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk memindahkan
gagasan dan pengalaman pebelajar melalui mata dan telinga. Pemanfaat-an
konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” dari Edgar
Dale.
Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut “audio
visual communication” pada tahun 1950-an. Dengan diterapkannya konsep
komunikasi dalam pembelajaran, peekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau
bahan yang berupa bahan audio visual untuk pembelajaran, tetapi dipusatkan pada
keseluruhan proses komu-nikasi informasi atau pesan dari sumber (guru, materi
atau bahan) kepada penerima (pebelajar). Gerakan komunikasi audio visual
memberikan penekakan kepada proses komunikasi yang lengkap dengan menggunakan
sistem pembelajaran yang utuh. Jadi konsepsi audio visual berusaha
mengaplikasikan konsep komunikasi, sistem, disain sistem pembelajaran dan teori
belajar dalam kegiatan pembelajaran.
Perkembangan berikutnya terjadi sekitar tahun 1952 dengan munculnya konsepsi
“instructional materials” yang secara kosepsional tidak banyak berbeda dengan
konsepsi sebelumnya. Karena pada intinya konsepsi ini ialah mengaplikasikan
proses komunikasi dan sistem dalam merencanakan dan mengembangkan materi
pembelajaran. Beberapa istilah yang merupakan variasi penggunaan konsepsi
“instructional materials” adalah “teaching/ learning materials”, “learning
resources”.
Dalam tahun 1952 ini juga telah digunakan istilah “educational media” dan
“instructional media”, yang sebenarnya secara konsepsional tidak mengalami
perubahan dari konsepsi sebelumnya, karena di sini dimaksudkan untuk
menunjukkan kegiatan komunikasi pendidikan yang ditimbulkan dengan penggunaan
media tersebut. Puncak perkembangan konsepsi ini terjadi sekitar tahun 1960-an.
Dengan mengaplikasikan pendekatan sistem, teori komunikasi, pengembangan sistem
pembelajaran, dan pengaruh psikologi Behaviorisme, maka muncullah konsep
“educational technology” dan/ atau “instructional technology” di mana media
pendidikan atau media pembelajaran merupakan bagian dari padanya.
C. Landasan Teknologis Media Pembelajaran
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan pebelajar untuk
belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang
pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan
setiap pebelajar sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian
teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah,
dilanjutkan dengan pengembangan disainnya, produksi, evaluasi dan memilih media
yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan
penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan
baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi (diseminasi).
Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip
bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan
oleh pebelajar yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang
ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap
pebelajar akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai
dengan karakteristik belajarnya.
Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam
manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
a. Meningkatkan produktivitas pendidikan ( Can make education more productive).
Dengan media dapat meningkatkan produktivitas pendidikan antara lain dengan
jalan mempercepat laju belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya
secara lebih baik dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi,
sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.
b. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make
education more individual).
Pembelajaran menjadi lebih bersifat individual antara lain dalam variasi cara
belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses pembelajaran, dan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan
kesempatan belajarnya.
c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran ( Can give
instruction a more scientific base).
Artinya perencanaan program pembelajaran lebih sistematis, pengembangan bahan
pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik siswa,
karakteristk bahan pembelajaran, analisis instruksional dan pengembangan disain
pembelajaran dilakukan dengan serangkaian uji coba yang dapat dipertanggung
jawabkan secara ilmiah.
d. Lebih memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia
menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi
dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat
e. Dengan media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika
(Can make learning more immediate).
Karena media mengatasi jurang pemisah antara pebelajar dan sumber belajar, dan
meng-atasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam memperoleh
informasi, dapat menyajikan “kekongkritan” meskipun tidak secara langsung.
f. Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make access
to education more equal).
D.Landasan Empirik Media Pembelajaran
Berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi antara penggunaan
media pembelajaran dan karakteristik pebelajar dalam menentukan hasil belajar
siswa. Artinya bahwa pebelajar akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia
belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristiknya. Pebelajar
yang memiliki gaya visual akan lebih mendapat keuntungan dari penggunaan media
visual, seperti film, video, gambar atau diagram; sedangkan pebelajar yang
memiliki gaya belajar auditif lebih mendapatkan keuntungan dari penggunaan
media pembelajaran auditif, seperti rekaman, radio, atau ceramah guru.
Atas dasar ini, maka prinsip penyesuaian jenis media yang akan digunakan dalam
kegiatan pembelajaran dengan karakteristik individual pebelajar, menjadi
semakin mantap. Pemilihan dan penggunaan media hendaknya jangan didasarkan pada
kesukaan atau kesenangan guru, tetapi dilandaskan pada kecocokan media itu
dengan karakteristik pebelajar, di samping sejumlah kriteria lain yang dijelaskan
pada bagian lain buku ini.
E.Landasan filosofis
Ada suatu pandangan bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil
teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang
manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan
terjadi dehumanisasi. Bukankan dengan adanya berbagai media pembelajaran justru
siswa dapat mempunyai banyak pilihan untuk digunakan media yang sesuai dengan
karakteristik pribadinya? Dengan kata lain siswa dihargai harkat kemanusiaanya
diberi kebebasan untuk menentukan pilhan, baik cara maupun alat belajar sesuai
dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti
dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang
penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses pembelajaran. Jika
guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki keprbadian, harga
diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang
lain,maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau tidak, proses
pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
Sumber:
CS,
Adam. “Karakteristik Media Pembelajaran”.
http://mediabacaan.blogspot.com/2012/11/karakteristik-media-pembelajaran.html
(diakses 26 maret 2014)
Al-Rasyid, Muh Ilham. “Landasan
Media Pembelajaran”.
http://tugaskuliah-ilham.blogspot.com/2011/03/landasan-media-pembelajaran.html
(diakses 26 maret 2014)